Selasa, 15 Maret 2022

GURU MUDA PENGHAPUS STIGMA


Pulau Kura merupakan salah satu pulau dari tiga belas pulau di Kabupaten Alor (Kota Kalabahi), Nusa Tenggara Timur. Terletak sekitar 50 km dari pusat ibu kota kabupaten yang membutuhkan waktu sekitar 4 jam perjalanan menggunakan transportasi laut atau biasa dikenal dengan perahu (kayu) motor milik perorangan. Perjalanan yang tidak mudah untuk sampai kesana, selain melewati arus laut yang sangat berbahaya, masyarakat disini menyebutnya dengan mulut kumbang (pusaran air alut), ditambah lagi dengan terkadang cuaca yang kurang bersahabat gelombang laut yang terlalu
berbahaya membuat pulau Kura kurang diekspos media. Pulau Kura berpenduduk kurang lebih 30 kepala keluarga yang hanya berprofesi sebagai nelayan dan petani rumput laut. Listrik dan sulitnya mencari air bersih untuk kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu kenyataan pahit yang harus terima penduduk sekitar.
Pulau Kura tak mempunyai sekolah, untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar, anak-anak harus mendayung sampan/perahu untuk sampai di pulau seberang yang memakan waktu kurang lebih 1 sampai 2 jam perjalanan. Tak ada mimpi istimewa yang terbersit dalam benak anak-anak di sana. Setelah menamatkan pendidikan dasar, mereka lantas membantu orang tua di laut mencari ikan atau membantu bertani rumput laut. Bermimpi indah merupakan hal yang sia-sia karena tak ada daya untuk menggapainya. Memang tak semua anak-anak disana putus sekolah, masih ada beberapa anak di pulau itu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hingga pendidikan menengah atas, akan tetapi setelah itu mereka tetap saja melanjutkan estafet orangtua mereka menjadi nelayan atau petani rumput laut. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa masyarakat disana enggan menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi, bisa membaca dan menulis saja bagi mereka sudahlah cukup.
Sampai secercah harapan itu tiba, datangnya sang guru muda dari pulau Jawa menjadi harapan satunya-satunya menggapai angan yang masih melayang terbang di atas awan. Atas dasar kecintaan kepada dunia pendidikan khususnya ingin mematahkan stigma bahwa anak-anak di Indonesia Timur khususnya di daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh akses dunia luar sangatlah kalah jauh tertinggal dengan anak-anak di kota-kota besar. Latar belakang itulah yang menjadi modal semangat guru muda dari pulau Jawa atau yang akrab disapa Bapak Ahmad itu untuk terus memoles mutiara-mutiara yang ada di pedalaman Indonesia timur.
Pagi itu dimulailah awal kisah perjuangan Pak Ahmad untuk memulai aktifitas, untuk memoles mutiara yang tertutup lumpur agar menjadi mutiara yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Memulai dari melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar dan dibantu oleh pemerintah desa setempat tentang akan pentingnya pendidikan di era sekarang ini. Pak Ahmad terus menyiapkan diri untuk terciptanya pendidikan yang baik untuk anak-anak di pulau Kura.
Berbekal peralatan dan buku seadanya Pak Ahmad terus mencari jalan keluar agar anak-anak disana mempunyai semangat dan motivasi untuk terus hadir dalam kegiatan belajar mengajar. Ia sadar bahwa bermodalkan semangat dan motivasi saja tidaklah cukup untuk mewujudkan apa yang selama ini ia cita-citakan. Ia butuh media dan sarana prasarana untuk mendukung kegiatan yang ia laksanakan sekarang. Mulai dari belajar menggunakan media pembelajaran dari  alam hingga ia pun rela merogoh kocek pribadinya untuk membeli buku-buku pelajaran dan media lainnya untuk kelangsungan kegiatan belajar mengajar.
Perjuangan ini tentunya tak semudah yang ia bayangkan, cobaan dan gangguan terus ia dapatkan dari berbagai kalangan yang tidak suka dengan kegiatan yang ia lakukan di pulau tersebut. Keterbatasan komunikasi menjadi salah satu kendala yang ia rasakan untuk terus meng-update informasi dari luar. Sekadar mencari jaringan telepon seluler saja Ia harus berjalan kaki kurang lebih 5 km menaiki bukit agar ia tetap bisa melepas rindu kepada orang tersayang di kampung halaman.
Perjuangan yang disertai dengan niat tulus dan ikhlas tentunya akan selalu berakhir indah, itulah yang terus ia tanamkan dalam diri sebagai pemacu semangatnya agar tak mudah dikalahkan dengan rasa pesimistis yang kerap ia dengar. Dengan memanfaatkan dunia maya, ia selalu mengunggah kegiatan dan keceriaan anak-anak di pulau itu ke sosial media, niat tulusnya pun direspon baik oleh nitizen dan kabar itu pun sampai kepada sahabat-sahabanya semasa di perguruan tinggi dulu. Bantuan berupa buku-buku dan media pembelajaran pun terus berdatangan silih berganti tanpa henti.
Hari demi hari telah berlalu, mutiara-mutiara itu perlahan menampakkan cahaya keindahannya. Akan tetapi ia menyadari bahwa mutiara belum mempunyai nilai jika belum ditunjukkan kepada dunia. Sekali lagi dengan memanfaatkan dunia maya dan bantuan dari sahabatnya, ia mendaftarkan anak-anak pulau itu mengikuti kejuaraan Olimpiade Sains tingkat Nasional. Semangat dan motivasi yang telah ditanamkan dalam hati anak-anak pulau menjadi modal utama untuk mengikuti kompetisi. Stigma yang kerap kali menempel kepada anak-anak pedalaman Indonesia Timur harus ia buang jauh-jauh, untuk mengubah stigma itu inilah langkah awal yang baik yang harus mereka kejar.
Singkat cerita perlombaan itu pun selesai, anak-anak pulau pun meraih juara ke-3 Olimpiade Sains Nasional mengalahkan anak-anak dari kota. Sebuah langkah awal yang sempurna untuk menatap masa depan yang cerah. Langkah yang bisa menghapus stigma bahwa anak-anak di pedalaman Indonesia Timur berpendidikan rendah dan kalah jauh tertinggal dengan anak-anak di kota besar. Berawal dari langkah kecil itulah pulau kecil itu akhirnya mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah untuk terus meningkatkan sumber daya manusia untuk menciptakan mutiara-mutiara yang terus berkilau dan mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar