Pulau Kura merupakan salah satu
pulau dari tiga belas pulau di Kabupaten Alor (Kota Kalabahi), Nusa Tenggara
Timur. Terletak sekitar 50 km dari pusat ibu kota kabupaten yang membutuhkan
waktu sekitar 4 jam perjalanan menggunakan transportasi laut atau biasa dikenal
dengan perahu (kayu) motor milik perorangan. Perjalanan yang tidak mudah untuk
sampai kesana, selain melewati arus laut yang sangat berbahaya, masyarakat
disini menyebutnya dengan mulut kumbang (pusaran air alut), ditambah lagi
dengan terkadang cuaca yang kurang bersahabat gelombang laut yang terlalu
berbahaya membuat pulau Kura kurang diekspos media. Pulau Kura berpenduduk kurang lebih 30 kepala keluarga yang hanya berprofesi sebagai nelayan dan petani rumput laut. Listrik dan sulitnya mencari air bersih untuk kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu kenyataan pahit yang harus terima penduduk sekitar.
Pulau Kura tak mempunyai sekolah,
untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar, anak-anak harus mendayung sampan/perahu
untuk sampai di pulau seberang yang memakan waktu kurang lebih 1 sampai 2 jam
perjalanan. Tak ada mimpi istimewa yang terbersit dalam benak anak-anak di sana.
Setelah menamatkan pendidikan dasar, mereka lantas membantu orang tua di laut
mencari ikan atau membantu bertani rumput laut. Bermimpi indah merupakan hal
yang sia-sia karena tak ada daya untuk menggapainya. Memang tak semua anak-anak
disana putus sekolah, masih ada beberapa anak di pulau itu melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi hingga pendidikan menengah atas, akan tetapi setelah
itu mereka tetap saja melanjutkan estafet orangtua mereka menjadi nelayan atau
petani rumput laut. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa masyarakat disana
enggan menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi, bisa
membaca dan menulis saja bagi mereka sudahlah cukup.
Sampai secercah harapan itu tiba,
datangnya sang guru muda dari pulau Jawa menjadi harapan satunya-satunya
menggapai angan yang masih melayang terbang di atas awan. Atas dasar kecintaan
kepada dunia pendidikan khususnya ingin mematahkan stigma bahwa anak-anak di
Indonesia Timur khususnya di daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh akses
dunia luar sangatlah kalah jauh tertinggal dengan anak-anak di kota-kota besar.
Latar belakang itulah yang menjadi modal semangat guru muda dari pulau Jawa
atau yang akrab disapa Bapak Ahmad itu untuk terus memoles mutiara-mutiara yang
ada di pedalaman Indonesia timur.
Pagi itu dimulailah awal kisah
perjuangan Pak Ahmad untuk memulai aktifitas, untuk memoles mutiara yang
tertutup lumpur agar menjadi mutiara yang mempunyai nilai jual yang sangat
tinggi. Memulai dari melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar dan
dibantu oleh pemerintah desa setempat tentang akan pentingnya pendidikan di era
sekarang ini. Pak Ahmad terus menyiapkan diri untuk terciptanya pendidikan yang
baik untuk anak-anak di pulau Kura.
Berbekal peralatan dan buku seadanya
Pak Ahmad terus mencari jalan keluar agar anak-anak disana mempunyai semangat
dan motivasi untuk terus hadir dalam kegiatan belajar mengajar. Ia sadar bahwa
bermodalkan semangat dan motivasi saja tidaklah cukup untuk mewujudkan apa yang
selama ini ia cita-citakan. Ia butuh media dan sarana prasarana untuk mendukung
kegiatan yang ia laksanakan sekarang. Mulai dari belajar menggunakan media
pembelajaran dari alam hingga ia pun
rela merogoh kocek pribadinya untuk membeli buku-buku pelajaran dan media
lainnya untuk kelangsungan kegiatan belajar mengajar.
Perjuangan ini tentunya tak semudah
yang ia bayangkan, cobaan dan gangguan terus ia dapatkan dari berbagai kalangan
yang tidak suka dengan kegiatan yang ia lakukan di pulau tersebut. Keterbatasan
komunikasi menjadi salah satu kendala yang ia rasakan untuk terus meng-update
informasi dari luar. Sekadar mencari jaringan telepon seluler saja Ia harus
berjalan kaki kurang lebih 5 km menaiki bukit agar ia tetap bisa melepas rindu kepada
orang tersayang di kampung halaman.
Perjuangan yang disertai dengan niat
tulus dan ikhlas tentunya akan selalu berakhir indah, itulah yang terus ia
tanamkan dalam diri sebagai pemacu semangatnya agar tak mudah dikalahkan dengan
rasa pesimistis yang kerap ia dengar. Dengan memanfaatkan dunia maya, ia selalu
mengunggah kegiatan dan keceriaan anak-anak di pulau itu ke sosial media, niat
tulusnya pun direspon baik oleh nitizen dan kabar itu pun sampai kepada
sahabat-sahabanya semasa di perguruan tinggi dulu. Bantuan berupa buku-buku dan
media pembelajaran pun terus berdatangan silih berganti tanpa henti.
Hari demi hari telah berlalu,
mutiara-mutiara itu perlahan menampakkan cahaya keindahannya. Akan tetapi ia
menyadari bahwa mutiara belum mempunyai nilai jika belum ditunjukkan kepada
dunia. Sekali lagi dengan memanfaatkan dunia maya dan bantuan dari sahabatnya,
ia mendaftarkan anak-anak pulau itu mengikuti kejuaraan Olimpiade Sains tingkat
Nasional. Semangat dan motivasi yang telah ditanamkan dalam hati anak-anak
pulau menjadi modal utama untuk mengikuti kompetisi. Stigma yang kerap kali
menempel kepada anak-anak pedalaman Indonesia Timur harus ia buang jauh-jauh,
untuk mengubah stigma itu inilah langkah awal yang baik yang harus mereka
kejar.
Singkat cerita perlombaan itu pun
selesai, anak-anak pulau pun meraih juara ke-3 Olimpiade Sains Nasional mengalahkan
anak-anak dari kota. Sebuah langkah awal yang sempurna untuk menatap masa depan
yang cerah. Langkah yang bisa menghapus stigma bahwa anak-anak di pedalaman
Indonesia Timur berpendidikan rendah dan kalah jauh tertinggal dengan anak-anak
di kota besar. Berawal dari langkah kecil itulah pulau kecil itu akhirnya
mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah untuk terus meningkatkan sumber
daya manusia untuk menciptakan mutiara-mutiara yang terus berkilau dan mampu
bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar